Entry: Dilema pekerja muslim di kapal pesiar Thursday, August 11, 2011



Hampir ada sekitar separuhnya pekerja di kapal pesiar adalah warga Indonesia. Mereka menempati bidang pekerjaan seperti dinining room, bartending, housekeeping, engine. Dari total keseluruhan pekerja Indonesia itu, ada sekitar separuhnya lagi adalah kaum muslim.

Nah, ada dilema tersendiri ketika seorang muslim harus bekerja di kapal pesiar yang sarat dengan berbagai godaan duniawi: judi, perempuan, minuman keras, dan berbagai makanan haram lainnya. Kalau soal main judi dan main perempuan itu kan tergantung iman masing-masing pelakunya. Tergantung kepada seberapa kuat iman seseorang untuk melangkah ke jurang maksiat itu atau tidak. Tapi dilema para pekerja muslim adalah ketika pekerjaan menuntut mereka untuk berhubungan dengan segala sesuatu yang masuk dalam kategori haram itu!
Dilema itu sangat besar meghadang bagi mereka yang bekerja sebagai bartender yang hampir septiap hari bersentuhan dengan minuman yang sudah pasti mengandung alkohol. Sudah sangat jelas dan terang benderang bahwa alkohol itu haram. Khamr itu haram, saudara-saudara! Maka definisi haram di sini tidak hanya ketika seseorang meminum minuman beralkohol itu, tapi juga menyangkut ketika sesorang memegang atau apalagi memperdagangkan barang haram itu.

Banyak teman-teman sesama muslim yang bingung dan ragu menyikapi dilema ini. Apakah pekerjaan sebagai bartender itu pantas diteruskan atau tidak? Pada kenyataanya mereka sangat membutuhkan pekerjaan itu. Jika mereka meninggalkan bidang pekerjaan itu, sama halnya mereka memporak-porandakan perekonomian keluarga. Bagaimana nasib anak-anak yang menunggu kiriman uang untuk biaya sekolah mereka, biaya berobat ketika sakit, atau bahkan biaya untuk naik haji bagi kedua orang tua mereka?

Pertanyaan ini memang dilematis. Saya sendiri bukanlah ahli agama, yang berkompeten untuk memberikan jawaban. Saya sendiri juga mengalami kesulitan untuk menjawab ketika saya juga bersentuhan dengan makanan haram ketika bekerja di kapal pesiar sebagai waiter. Di sana banyak tersedia menu yang berbahan dasar babi, seperti ham atau baccon. Kedua makanan ini jelas berbahan dasar babi. Belum ditambah lagi berbagai masakan lain yang menggunakan minyak babi sebagai seasoning-nya.

Dosakah saya? Dosakah mereka?

Dilema ini juga dialami oleh saudara-saudara muslim yang ada di Amerika Serikat, atau di manapun mereka berada yang terpakasa menjual bir, tiket lotere, dan daging babi tadi. Padahal mereka tahu bahwa memperdagangkan barang haram, hukumnya tetap saja haram. Tapi mereka butuh hidup, terutama di negara-negara non muslim yang memang kebutuhan sehari-harinya adalah barang-barang seperti itu.

Seorang Imam di Amerika Serikat hanya bisa mengatakan, bahwa tugas dia sebagai pemuka agama sudah cukup ketika dia sudah memperingatkan mereka dalam setiap kutbah-kutbahnya. Dia tidak punya kuasa untuk melarang atau menghukum mereka di dunia. Perdagangan itu bebas adanya. Hukum pasar berlaku. Para pedagang yang aslinya berasal dari Bangladesh, Pakistan, Mesir, atau negara-negara muslim lainnya, harus berkompetisi dengan pedagang lain di sana. Jika tidak meraka akan tergilas dan mati kelaparan di rantau. Padahal tujuan utama mereka berimigrasi adalah untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Imam besar dari Amerika itu hanya bisa mengatakan bahwa hari pembalasan itu akan terjadi ketika di akherat nanti, bukan di dunia ini.

Saya sendiri, sebagai salah satu pelaku, orang yang pernah bekerja di kapal pesiar dan pernah berhubungan dengan berbagai makanan yang berbahan dasar babi hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saya. Saya juga berdoa, kiranya Tuhan juga mengampuni dosa teman-teman saya yang dengan terpaksa tidak bisa menghindar karena itu semata-mata tuntutan pekerjaan. Saya menghakhiri doa saya agar saya juga diberi jalan untuk bisa bekerja di tempat lain, dengan cara yang halal dan berguna bagi umat manusia.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, toh hidup itu adalah sebuah pilihan, “life is a matter of choice.” Saya juga jadi teringat kata-kata kapten kapal yang sering mengultimatum para kru kapal kalau sudah mulai ogah-ogahan bekerja di kapal pesiar, dengan mengatakan, “Just follow the rule. You Take it or leave it!”
Ya, siapa juga yang memaksa untuk bekerja di kapal pesiar? You like it, take it. You don’t like it, leave it! Gitu aja kok repot! (Mohon maaf Gus Dur, saya pinjam kata-kata sampean untuk menghakiri dilema ini).

Sumber berita: http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/10/dilema-pekerja-muslim-di-kapal-pesiar/

   4 comments

Name
October 7, 2012   03:49 PM PDT
 
It does not follow that because we do not subsidize smoking, we should not regulate unhealthy activities. Costs and savings are not the only variable. The fact that obesity creates costs is merely an additional reason to regulate it, not the only one. The main reason is its danger to an individual. ,926702,http://mashar67.blogdrive.com/archive/19.html
Anne
October 2, 2012   07:26 AM PDT
 
tulisan ini ada di buku DILEMA: kisah 2 dunia dari kapal pesiar ya.... kemarin saya dapat di gramedia matraman... bukunya asyik.. enak di baca
air max chaussure
April 26, 2012   06:43 AM PDT
 
I learn much from your article. Life is a beautiful journey. Everyone can only live but once. Wise people knows that we should enjoy our life. We should care about everything around us. Clothes, foods, friends, families and everything. Come on, make a better world for you and for me. At the same time, I think my website is good as well,889359,http://mashar67.blogdrive.com/archive/19.html
Belstaff Jackets UK
April 15, 2012   10:07 AM PDT
 
Hey ! am I glad to vist your blog ! from this I can get some information and facts that I didn¡¯t know prior to. You made my day. Thank you rather much!,622319,http://mashar67.blogdrive.com/comments?id=19

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments